Bahasa merupakan alat komunikasi bagi setiap orang,
termasuk anak-anak. Anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya melalui
berbahasa. Keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan
penguasaan kemampuan berbahasa. Melalui bahasa, anak dapat
mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain memahaminya dan menciptakan
suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa
dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang
dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas.
Sebelum mempelajari pengetahuan lain, anak perlu menggunakan bahasa agar
dapat memahami dengan baik. Anak akan dapat mengembangkan kemampuannya
dalam bidang pengucapan bunyi, menulis, membaca yang sangat mendukung
keberaksaraan di tingkat yang lebih tinggi.
Berbagai pendapat tentang teori pengembangan bahasa
dikemukakan oleh para ahli. Pemahaman akan berbagai teori pengembangan
bahasa dapat memengaruhi penerapan metode implementasi terhadap
pengembangan bahasa anak, sehingga diharapkan pendidik mampu mencari dan
membuat bahan pengajaran yang sesuai dengan tingkat usia anak. Beberapa
teori mengenai hal ini antara lain:
-
Teori "Behaviorist" oleh Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengondisian stimulus yang menimbulkan respons. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku anak secara bertahap. Perilaku positif pada anak cenderung akan diulang ketika mendapat dorongan yang sesuai dengan kemampuan anak dari lingkungannya. Latihan untuk anak harus menggunakan bentuk-bentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respons) yang dikenalkan secara bertahap, mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit.
-
Teori "Nativist" oleh Chomsky", mengutarakan bahwa bahasa sudah ada di dalam diri anak. Saat seorang anak dilahirkan, ia telah memiliki serangkaian kemampuan berbahasa yang disebut "Tata Bahasa Umum" atau "Universal Grammar". Anak tidak sekadar meniru bahasa yang ia dengarkan, tapi ia juga mampu menarik kesimpulan dari pola yang ada. Ini karena anak memiliki sistem bahasa yang disebut Perangkat Penguasaan Bahasa (Language Acquisition Devise/LAD). Menurut teori ini, anak perlu mendapatkan model pembelajaran bahasa sejak dini. Anak akan belajar bahasa dengan cepat, terutama untuk bahasa kedua, sebelum usia 10 tahun.
-
Teori "Constructive" oleh Piaget, Vigotsky, dan Gardner, menyatakan bahwa perkembangan kognisi dan bahasa dibentuk dari interaksi dengan orang lain. Anak memiliki perkembangan kognisi yang terbatas pada usia-usia tertentu, tetapi melalui interaksi sosial anak akan mengalami peningkatan kemampuan berpikir. Pengaruhnya dalam pembelajaran bahasa adalah anak akan dapat belajar dengan optimal jika diberikan kegiatan. Dalam kegiatan itu, anak perlu didorong untuk sering berkomunikasi. Adanya anak yang lebih tua usianya atau orang dewasa yang mendampingi pembelajaran dan mengajak bercakap-cakap, akan menolong anak menggunakan kemampuan berbahasa yang lebih tinggi atau melejitkan potensi kecerdasan bahasa yang sudah dimiliki anak. Oleh karena itu, pendidik perlu menggunakan metode yang interaktif; menantang anak untuk meningkatkan pembelajaran dan menggunakan bahasa yang berkualitas.
Permainan yang dapat mendukung terciptanya rangsangan
pada anak dalam berbahasa, antara lain alat peraga berupa buku
gambar/poster, mendengarkan lagu, menonton film, mendengarkan suara
kaset, membaca cerita, atau mendongeng. Semua aktivitas yang dapat
merangsang kemampuan anak dalam berbahasa dapat diciptakan sendiri oleh
pendidik. Pendidik dapat berimprovisasi dengan cara menerapkannya pada
anak sesuai dengan kondisi dan lingkungannya. Beberapa permainan atau
kegiatan yang dapat dimodifikasi untuk mengembangkan kemampuan berbahasa
anak, misalnya: permainan memilih benda, menebak suara binatang, peran
anggota keluarga (berperan sebagai ayah, ibu, dsb.), dan permainan
anak-anak yang lain.
Pertanyaan yang sering muncul dari orang tua adalah:
"Saya ingin anak saya dapat membaca dan menulis secepat mungkin,
bagaimana caranya?"
Dasar-dasar permulaan membaca dan menulis dimulai
sejak lahir dan berkembang terus-menerus sepanjang hidup. Di usia yang
sangat dini, anak-anak mulai belajar bahasa lisan saat mendengar anggota
keluarganya berbicara, tertawa, bernyanyi, dan ketika orang di
sekitarnya menanggapi semua celotehannya. Demikian pula ia mulai
memahami bahasa tulisan ketika mendengar orang dewasa membacakan cerita
untuknya serta melihat anggota keluarganya membaca majalah, surat kabar,
dan buku-buku. Kegiatan-kegiatan ini dihadirkan dalam suasana yang
hangat, penuh cinta kasih, dan bebas tekanan sehingga kegiatan membaca
dan menulis menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Penting untuk dipahami bahwa tujuan utama
mengembangkan kemampuan membaca dan menulis anak-anak adalah mengenalkan
mereka pada kekuatan dan kesenangan membaca dan menulis. Kecintaan
membaca dimulai saat orang tua memeluk anak dan membacakan cerita dengan
ekspresif. Keakraban dalam menikmati buku dan cerita memperkuat ikatan
emosional, membantu anak dalam mempelajari kata dan konsep baru, dan
merangsang pertumbuhan otak anak. Semangat untuk menulis ditumbuhkan
dengan memberikan kesempatan pada anak untuk menggambar dan
mencoret-coret. Gambar dan coretan anak adalah tulisan pertamanya,
lambat laun seiring dengan perkembangannya anak akan menulis
huruf-huruf. Melalui bantuan dan dorongan orang-orang di sekitarnya,
anak menapaki langkah besar menjadi seorang penulis.
Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat
penting karena dengan bahasa sebagai dasar kemampuan, seorang anak akan
dapat meningkatkan kemampuan yang lain. Pendidik perlu menerapkan
ide-ide mereka untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, memberikan
contoh penggunaan bahasa dengan benar, dan menstimulasi perkembangan
bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif. Anak perlu terus dilatih
untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang
dimilikinya. Kegiatan nyata yang diperkuat dengan komunikasi akan terus
meningkatkan kemampuan bahasa anak. Lebih daripada itu, anak harus
ditempatkan di posisi yang terutama, sebagai pusat pembelajaran yang
perlu dikembangkan potensinya. Ketika belajar bahasa, anak perlu
menggunakan berbagai strategi, misalnya permainan yang bertujuan
mengembangkan bahasa anak dan penggunaan berbagai media yang mendukung
pembelajaran bahasa. Anak akan mendapatkan pengalaman bermakna dalam
meningkatkan kemampuan berbahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar