Pengertian Ikhlas Dari sisi lughawi (bahasa), kata ikhlas berasal dari akar kata kh-l-sh yang artinya murni, tidak bercampur dengan yang lainnya. Laban khaalish dalam bahasa arab berarti susu murni yang tidak bercampur dengan apapun. Tidak bercampur dengan air, tidak bercampur dengan gula, tidak pula bercampur dengan yang lainnya. Dengan demikian ikhlas berarti memurnikan sesuatu. Dalam konteks kajian tauhid dan akhlaq, tentu saja yang dimaksud adalah memurnikan penghambaan dan ketaatan hanya kepada Allah semata.
Adapun secara terminologis (isthilahi), ikhlas berarti
mengerjakan amal perbuatan lillahi ta’ala, semata-mata karena Allah,
tidak karena yang lainnya. Yang diharapkan hanyalah ridha dan balasan
dari Allah. Sebagian ulama yang lain mendefinisikan ikhlas sebagai “an
laa tathluba ‘alaa ‘amalika ayya syuhuud” (engkau melakukan amal
perbuatan tidak karena ingin dilihat oleh seseorang). Ini sesuai dengan
firman Allah SWT di penggal terakhir QS Al-Fath: 28: “Wa kafaa billahi
syahiidan” (Dan cukuplah Allah semata sebagai saksi – atas segala amal
perbuatan).
Mengapa kita ikhlas?
Setidak-tidaknya ada tujuh alasan mengapa kita harus bersikap ikhlas dalam melakukan setiap amal perbuatan. Alasan pertama, karena ikhlas adalah perintah Allah. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Bayyinah: 5: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan semata-mata untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-An’am: 162-163: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” Alasan kedua, ikhlas merupakan manifestasi tauhid. Karena itu para ulama menyebut riya’ sebagai syirik yang tersembunyi (al-syirk al-khafiyy). Karena orang yang riya’ berarti telah menyekutukan Allah dalam niatnya, menyekutukan Allah dalam peruntukan ibadahnya. Alasan ketiga, ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal. Sebagaimana diketahui, syarat diterimanya amal ada dua: ikhlas dan benar. Jika salah satu saja dari kedua syarat ini tidak terpenuhi, suatu amalan tidak akan diterima oleh Allah. Dalam QS Al-Kahfi: 110 Allah SWT mengisyaratkan dua syarat tersebut: “Maka barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah ia beramal dengan amalan yang benar (shalih) dan ia tidak menyekutukan ibadah kepada Tuhannya dengan sesuatupun.” Perlu juga diketahui bahwa yang membatalkan pahala amal kita ada dua. Pertama, pembatal pahala semua amal, yaitu kekafiran atau kemusyrikan. Ini terjadi jika kita tidak menyembah Tuhan (atheis), atau menyembah tuhan selain Allah (kafir), atau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah (musyrik). Namun ketika seorang atheis, kafir atau musyrik kembali pada iman dan tauhid, maka pahalanya akan kembali, kesalahannya dihapus, bahkan kesalahannya akan diubah menjadi kebaikan. Kedua, pembatal amal tertentu. Ini terjadi jika kita tidak ikhlas dalam melakukan suatu amal tertentu. Inipun ada dua keadaan. Keadaan pertama adalah tidak ikhlas dalam suatu amal secara keseluruhan (ashlul ‘amal), misalnya orang yang sholat karena riya’, maka sholatnya secara keseluruhan tidak berpahala. Keadaan kedua adalah tidak ikhlas dalam aushaful ‘amal (sifat-sifat amal), misalnya seseorang yang sholat karena Allah, tetapi memperpanjang rakaat/ruku’/sujud karena manusia, maka panjangnya rakaat/ruku’/sujud itu saja yang tidak berpahala. Alasan keempat, keikhlasan menentukan nilai amal kita. Innamal a’malu bin niyyat, amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Wa innama likullimri-in ma nawa, setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya. Hadits tentang keikhlasan ini ditaruh sebagai hadits nomor 1 dari 42 hadits pilihan tentang pokok-pokok agama dalam Hadits Arba’in Nawawiyah. Ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan. Sabab wurud dari hadits ini adalah karena adanya seorang laki-laki yang berhijrah karena ingin menikahi wanita muhajirin bernama Ummu Qays, bukan berhijrah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Keikhlasan memang akan menentukan nilai amal kita. Orang yang beramal demi akhirat tidak sama dengan orang yang beramal demi dunia. Jika seseorang beramal demi dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bagian akhirat (pahala). Ia hanya mungkin mendapatkan dunia, atau bahkan mungkin tidak mendapatkannya. Tetapi jika ia beramal untuk akhirat, maka ia akan mendapatkan bagian akhirat (pahala), dan Allah juga Maha Adil dan Maha Pemurah sehingga juga akan memberinya bagian dunia. Sehingga ia mendapatkan dunia dan akhirat sekaligus. Demikian pula, niat memiliki kedudukan yang amat tinggi. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi saw, jika seseorang mempunyai niat untuk beramal baik niscaya ia sudah dinilai 1 kebaikan, meski belum melaksanakan amal baik tersebut. Jika ia betul-betul melaksanakan niatnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan minimal 10 kali lipat. Namun niat buruk belum dinilai 1 keburukan sampai benar-benar dilaksanakan. Dan jika dilaksanakan hanya dinilai 1 keburukan saja. Nilai amal baik kita amat tergantung pada niat kita. Amal baik tanpa niat benar, meski banyak, tidak diterima. Tetapi amal baik dengan niat benar, meski sedikit, bernilai besar di sisi Allah. Bahkan amal-amal mubah bisa bernilai kebaikan (ibadah) hanya karena niatnya. Pahala amal mubah bisa berbeda karena perbedaan niatnya. Karena itu mari kita biasakan untuk menata niat ketika melakukan perkara-perkara yang mubah sekalipun. Ikhlas bukan hanya dalam ibadah mahdhah, tetapi juga dalam setiap perkara yang kita lakukan dalam hidup ini (Qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin). Karena sedemikian pentingnya niat, bahkan ada orang-orang yang tanpa beramal bisa mendapatkan pahala kebaikan sebagaimana orang yang beramal hanya karena niatnya. Misalnya, sebagai ditegaskan dalam hadits Nabi saw, dalam kasus orang miskin yang ingin bersedekah. Atau dalam kasus seseorang yang berniat dengan tulus untuk mencapai syahid. Rasulullah saw bersabda: Man sa-ala Allaha asy-syahadah bishidqin ballaghahullahu manazilasy syuhada’ wa in maata ‘alaa firaasyihi (Barangsiapa memohon kesyahidan kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan menyampaikannya pada derajat orang-orang yang mati syahid meskipun ia mati diatas ranjang tempat tidurnya) - HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi. Alasan kelima, keikhlasan akan menyelamatkan kita dari godaan syetan. Ini sesuai dengan pengakuan Iblis Sang Penghulu Syetan itu sendiri, yang diabadikan dalam QS: 79-83: “Iblis berkata: Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)". Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka. Bahkan Yusuf as yang sedang digoda oleh seorang wanita cantik, kaya, dan terpandang pun, hanya bisa selamat karena ia memiliki keikhlasan, sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam QS Yusuf: 24: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Alasan keenam, tidak adanya keikhlasan akan mencelakakan kita di akhirat nanti. Yang lebih celaka lagi adalah jika kita sewaktu beramal di dunia ini tidak menyadari bahwa kita tidak ikhlas. Karena itulah Rasulullah saw memberi tuntunan agar kita setiap pagi dan setiap petang berdoa sebagai berikut: “Allahumma inni a’udzu bika min an usyrika bika syaian a’lamuh, wa astaghfiruka lima laa a’lamuh (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu sedangkan aku mengetahui. Dan aku mohon ampun kepada-Mu dari yang tidak aku ketahui).” Perhatikan pula sabda Rasulullah saw tentang tiga jenis manusia yang akan pertama kali dilempar ke neraka, padahal tiga orang itu adalah seorang mujahid, seorang 'alim dan pandai Al-Qur'an, dan seorang yang gemar berinfaq. Ketiganya celaka dan dilempar ke neraka hanya karena satu hal: mereka tidak ikhlas. Dan alasan ketujuh, keikhlasan akan mendatangkan kekuatan. Ini sesuai dengan kisah penebang pohon yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya. Dalam hadits tersebut dikisahkan tentang seorang dai yang hendak menebang pohon yang dijadikan berhala oleh penduduk sebuah kampung. Sang dai hendak menebang pohon itu karena Allah. Ketika Iblis berusaha menghadang sang dai dan keduanya berkelahi, kalahlah Iblis. Namun Iblis sesudah itu melakukan tipu daya. Ia membujuk sang dai agar tidak usah lagi berusaha menebang pohon, dengan kompensasi bahwa Iblis akan memberi sang dai sejumlah uang setiap pagi, yang diletakkan dibawah bantal sang dai. Namun setelah beberapa lama uang itu diberikan, suatu saat Iblis tidak lagi memberikan uang. Marahlah sang dai, dan diambillah kapaknya. Ia berangkat dengan marah untuk menebang kembali pohon tersebut. Iblis pun kembali menghadangnya, kedua kembali berkelahi, namun kali ini sang dai yang dikalahkan oleh Iblis. Sang dai kalah karena kali ini tidak ikhlas karena Allah, tetapi karena sejumlah uang. Ia marah karena Iblis tidak lagi memberinya uang. |
Label
- Gaya Hidup (9)
- Pendidikan (8)
- Kesehatan (7)
- FIQIH (2)
- Kecantikan (2)
- Cookie (1)
- DIET (1)
- Relationship (1)
Minggu, 09 Agustus 2015
Makna dan Pentingnya Ikhlas
Kamis, 06 Agustus 2015
Tata Cara Shalat Istikharah
Terkadang kita menghadapi beberapa masalah yang memiliki urgensi (tingkat kepentingan) yang sama bagi kita. Kita pun ingin memohon dengan cara istikharah, tapi bingung tentang tata caranya. Mudah-mudahan tulisan berikut ini bisa jadi jalan keluarnya.
Shalat istikharah adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan. Sebelum datangnya Islam, masyarakat jahiliyah melakukan istikharah (menentukan pilihan) dengan azlam (undian). Setelah Islam datang, Allah melarang cara semacam ini dan diganti dengan shalat istikharah.
Dalil disyariatkannya shalat istikharah
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ
أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ
السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ،
وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ
أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ،
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى
دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِى
وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ،
وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى
وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى
وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى
الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى – قَالَ – وَيُسَمِّى حَاجَتَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:
“Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.”
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).
Teks Doa Istikharah
Teks doa istikharah ada dua:Pertama,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك
وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ،
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ
عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا
الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى
فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ
تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى
وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ
لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih”
Kedua, sama dengan atas hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu:
Kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Sehingga, Teks lengkapnya:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك
وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ،
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ
عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا
الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى
وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ
هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ
عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ
أَرْضِنِى
Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khoiro haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.
Kapan doa istikharah diucapkan?
Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul berkata, “Waktu doa istikharah adalah setelah salam, berdasarkan sabda beliau shallallahu Alaihi wa Sallam,
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ
“Jika salah seorang di antara kalian berkehendak atas suatu urusan, hendaklah ia shalat dua rakaat yang bukan wajib, kemudian ia berdoa…..”
Teks hadis menunjukkan setelah melaksanakan dua rakaat, artinya setelah salam.” (Bughyatul Mutathawi‘, Hal. 46)
Apakah ada bacaan khusus ketika shalat?
Tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya bacaan surat atau ayat khusus ketika shalat istikharah. Jadi, orang yang melakukan shalat istikharah bisa membaca surat atau ayat apapun, yang dia hafal. Al-Allamah Zainuddin Al-Iraqi mengatakan, “Aku tidak menemukan satu pun dalil dari berbagai hadis istikharah yang menganjurkan bacaan surat tertentu ketika istikharah.”Apakah istikharah harus dengan shalat khusus ataukah boleh dengan semua shalat sunnah?
Pada hadis tentang shalat istikharah di atas dinyatakan,
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
“Kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu…”
Berdasarkan kalimat ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa melakukan istikharah tidak harus dengan shalat khusus, tapi bisa dengan semua shalat sunah. Artinya, seseorang bisa melakukan shalat rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, atau shalat sunah lainnya, kemudian setelah shalat dia membaca doa istikharah. Imam An-Nawawi mengatakan,
والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب ، وبتحية المسجد، وغيرها من النوافل
“Teks hadis menunjukkan bahwa doa istikharah bisa dilakukan setelah melaksanakan shalat rawatib, tahiyatul masjid, atau shalat sunnah lainnya.” (Bughyatul Mutathawi’, Hal. 45)
Jawaban dalam mimpi?
Banyak orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam mimpi. Ini adalah anggapan yang yang sama sekali tidak berdalil. Karena tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah mengatakan,
Mimpi tidak bisa dijadikan acuan hukum fiqih. Karena dalam mimpi setan memiliki peluang besar untuk memainkan perannya, sehingga bisa jadi setan menggunakan mimpi untuk mempermainkan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرؤيا ثلاثة، من الرحمن ومن الشيطان وحديث نفس
“Mimpi ada 3 macam: dari Allah, dari setan, dan bisikan hati.”
Beliau juga menjelaskan bahwa mimpi tidak bisa untuk menetapkan hukum, namun hanya sebatas diketahui. Dan tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi. Karena itu, tidak disyaratkan, bahwa setiap istikharah pasti diikuti dengan mimpi. Hanya saja, jika ada orang yang istikharah kemudian dia tidur dan bermimpi yang baik, bisa jadi ini merupakan tanda baik baginya dan melapangkan jiwa. Tetapi, tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. (Al-Fatwa Al-Masyhuriyah: http://almenhaj.net/makal.php?linkid=124)
Apa yang harus dilakukan setelah istikharah?
Para ulama menjelaskan bahwa setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan apa yang sesuai keinginan hatinya. Imam An-Nawawi mengatakan,
إذا استخار مضى لما شرح له صدره
“Jika seseorang melakukan istikharah, maka lanjutkanlah apa yang menjadi keinginan hatinya.”
Kesimpulan
Berdasarkan keterangan di atas, tata cara shalat istikharah sebagai berikut:- Istikharah dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan satu hal tertentu, bukan sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan kepada Allah.
- Bersuci, baik wudhu atau tayammum.
- Melaksanakan shalat dua rakaat. Shalat sunnah dua rakaat ini bebas, tidak harus shalat khusus. Bisa juga berupa shalat rawatib, shalat tahiyatul masjid, shalat dhuha, dll, yang penting dua rakaat.
- Tidak ada bacaan surat khusus ketika shalat. Artinya cukup membaca Al-Fatihah (ini wajib) dan surat atau ayat yang dihafal.
- Berdoa setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. Caranya: membaca salah satu diantara dua pilihan doa di atas. Selesai doa dia langsung menyebutkan keinginannya dengan bahasa bebas. Misalnya: bekerja di perushaan A atau menikah dengan B atau berangkat ke kota C, dst.
- Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi pada anda.
- Apapun hasil akhir setelah istikharah, itulah yang terbaik bagi kita. Meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, kita harus berusaha ridha dan lapang dada dengan pilihan Allah untuk kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa di atas, dengan menyatakan, [ ثُمَّ أَرْضِنِى] “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya” maksudnya adalah ridha dengan pilihan-Mu ya Allah, meskipun tidak sesuai keinginanku.
Selasa, 28 Juli 2015
INILAH KUNCI KEBERHASILAN PENDIDIKAN DI JEPANG
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri
(SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara
“open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin
seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya
gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya termenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang
belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar
mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa
kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut
mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya termenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
RAHASIA KEHEBATAN PENDIDIKAN FINLANDIA
Finlandia menerapkan sistem yang terbilang unik. Tidak
mengenal evaluasi akhir tahun seperti Ujian Nasional (UN). Tapi selalu ada
ujian yang bukan menguji kecerdasan siswa melainkan kesuksesan guru dalam
menerangkan. Tak heran jumlah siswa yang drop-out di Finlandia hanya 2 persen.
Angka terendah di seluruh dunia.
Bukan hanya itu. Siswa tak terlalu banyak diberi
beban. Untuk kenyamanan belajar, pemerintah menetapkan standar 1 kelas 20 siswa
dan 3 guru. Dua guru menerangkan di depan kelas, satu lagi membantu siswa yang
terlihat kesulitan memahami materi pelajaran. Maka tidak heran bila Finlandia
menghasilkan para pelajar dengan kualitas hampir terbaik di dunia.
Finlandia menggunakan filsafat pendidikan yang
menyatakan setiap orang memiliki sesuatu untuk disumbangkan dan mereka
yang
mengalami kesulitan di mata pelajaran tertentu semestinya tidak
ditinggalkan.
Suatu taktik yang diterapkan dalam hampir setiap mata pelajar adalah
pengerahan guru bantu yang ditugasi untuk membantu murid yang
mengalami kesulitan di mata pelajaran tertentu. Meski demikian, siswa
ditempatkan dalam ruang kelas yang sama, tanpa memandang kemampuan
mereka dalam
pelajaran tersebut.
Menurut OECD, anak-anak Finlandia memiliki jam belajar paling pendek di jajaran negara maju. Ini mencerminkansisi penting lain bagi pendidikan Finlandia. Persekolahan tingkat dasar dan menengah digabung, sehingga murid tidak perlu berganti sekolah pada usia 13. Dengan cara ini, mereka terhindar dari masa peralihan yang bisa menganggu dari satu sekolah ke sekolah lain. Anak-anak di Finlandia baru mulai menjalani sekolah utama pada usia tujuh tahun. Gagasan bahwa sebelum itu mereka belajar paling efektif ketika bermain dan menjelang mereka akhirnya bersekolah mereka juga bersemangat untuk mulai belajar.
Para orang tua Finlandia jelas memiliki andil atas prestasi sekolah yang mengesankan. Ada budaya membaca di kalangan anak-anak di rumah dan keluarga harus mengadakan kontak berkala dengan guru anak mereka. Keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia tampaknya juga ditunjang budaya. Anak-anak belajar dalam suasana yang santai dan informal. Keberhasilan sistem ini ditopang gagasan bahwa less can be more atau sedikit bisa jadi lebih banyak. Ada penekanan untuk menjadikan sekolah yang santai dan bebas dari resep-resep politik. Kombinasi, menurut keyakinan orang Finlandia, berarti bahwa tidak ada anak yang tertinggal
Menurut OECD, anak-anak Finlandia memiliki jam belajar paling pendek di jajaran negara maju. Ini mencerminkansisi penting lain bagi pendidikan Finlandia. Persekolahan tingkat dasar dan menengah digabung, sehingga murid tidak perlu berganti sekolah pada usia 13. Dengan cara ini, mereka terhindar dari masa peralihan yang bisa menganggu dari satu sekolah ke sekolah lain. Anak-anak di Finlandia baru mulai menjalani sekolah utama pada usia tujuh tahun. Gagasan bahwa sebelum itu mereka belajar paling efektif ketika bermain dan menjelang mereka akhirnya bersekolah mereka juga bersemangat untuk mulai belajar.
Para orang tua Finlandia jelas memiliki andil atas prestasi sekolah yang mengesankan. Ada budaya membaca di kalangan anak-anak di rumah dan keluarga harus mengadakan kontak berkala dengan guru anak mereka. Keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia tampaknya juga ditunjang budaya. Anak-anak belajar dalam suasana yang santai dan informal. Keberhasilan sistem ini ditopang gagasan bahwa less can be more atau sedikit bisa jadi lebih banyak. Ada penekanan untuk menjadikan sekolah yang santai dan bebas dari resep-resep politik. Kombinasi, menurut keyakinan orang Finlandia, berarti bahwa tidak ada anak yang tertinggal
Finlandia resmi menjadi bagian dari komunitas Eropa
pada bulan maret tahun 1992. Nama resmi negara ini adalah Republik Finlandia,
tetapi penduduk Finlandia memanggil Negara mereka “suomi” yang berarti
pulau rawa dan danau. Finlandia memiliki luas area 338.145 km dengan jumlah
penduduk 5.223.442 jiwa. Sebelum tahun 1990 Finlandia menggantungkan pendapatan
negaranya pada sektor pertanian. Tetapi sekarang Finlandia terkenal sebagai
salah satu pusat teknologi dunia. Sebut saja Nokia dan semua orang langsung
mengenalinya sebagai produk dari Finlandia
Semuanya itu tidak lepas dari lonjakan perkembangan
pendidikan yang dilakukan Finlandia. Dari tahun 2000 sampai tahuun 2009
Finlandia masuk ke jajaran top di peringkat PISA (Programme for International
Student Assessment). Dengan sumber daya yang terbatas dan anggaran yang lebih
kecil ($3.000 dollar lebih kecil dari Amerika, dihitung per anak) Finlandia
mampu menghasilkan murid-murid yang lebih unggul dari pada murid-murid di
Amerika dalam bidang Science dan Math.
Apa rahasianya? Mari kita cermati bersama-sama dari
tiga aspek: politik, guru proses dan kebudayaan.
Politik
Berawal dari kebijakan eksekutif Finlandia yang
menginginkan Negara mereka maju dalam bidang tekhnologi. Pada tahun 1990
Finlandia melakukan desentralisasi pendidikan dan mengadakan beberapa kebijakan
utama seperti: kurikulum nasional yang ketat, gelar master bagi semua guru
bukan lagi sarjana, dalam satu kelas terdapat sampai tiga guru (dua guru fokus
pada penyampaian materi, satu guru menemani mereka yang masih tertinggal dalam
pelajaran).
Satu yang perlu dicatat, perubahan politik yang
terjadi di Finlandia tidak merubah kebijakan pendidikan, sehingga apa yang
diprogramkan terus berjalan. Hasilnya hanya dalam 14 tahun Finlandia menjadi
Negara dengan pendidikan nomor satu di dunia dengan tingkat drop out murid
hanya 2%.
Guru
Guru merupakan profesi yang sangat dihargai meski
gaji mereka pun tidak tinggi. Hal ini diperkuat dengan kebijakan perekrutan guru
yang sangat ketat di Finlandia sehingga guru menjadi profesi yang prestisius.
Sebagai perbandingan, di amerika 47% guru berasal dari 1/3 mahasiswa dari peringkat
bawah (akademik), di Finlandia calon guru berasal dari mahasiswa 10 besar di
kampus, yang masih akan disaring dengan lebih ketat. Dalam masa training calon
guru ditemani satu guru senior yang akan memberikan umpan balik atas materi
yang akan diajarkan dan cara mengajar di kelas. Dengan demikian calon guru akan
memiliki lebih banyak manfaat dari pengalaman guru senior.
Profesi guru di Finlandia sangat menarik dan
menantang. Guru bahkan memiliki peran yang penting dalam pembuatan dan
perubahan kurikulum. Penilaian (assessment) murid pun lebih besar dilakukan oleh
guru bukan dengan sistem Ujian Nasional. Hal ini sengaja dibuat agar kaum muda
tertantang untuk mengajar dan memanfaatkan apa yang telah mereka dapatkan
dengan gelar masternya.
Proses
Pendidikan di Finlandia menekankan pada pentingnya
deteksi dan intervensi dini akan kesulitan atau hambatan yang ditemui murid.
Berbeda dengan kebanyakan negara yang umumnya mendeteksi kesulitan dengan
mengadakan evaluasi yang biasanya hanya mengukur satu komponen. Finlandia
bertindak dengan cara yang berbeda. Pendidikan di FInlandia percaya bahwa
deteksi dini dan intervensi dini adalah bagian dari proses belajar mengajar
yang dilakukan. Sehingga setiap anak yang mengalami kesulitan dalam
pembelajaran akan dideteksi lebih dini dan disediakan bantuan individual
secepatnya untuk menangani masalah tersebut.
Bagaimana guru kelas di Finlandia bisa melakukan hal
ini? Jawabnya ada pada jumlah guru yang bisa mencapai tiga orang untuk satu
kelas. Selain itu rata-rata jam mengajar guru Finlandia lebih kecil 111 jam
dibandingkan rata-rata jam mengajar guru di negara yang tergabung dalam OECD
(guru OECD rata-rata mengajar 703 jam selama setahun sedangkan guru Finlandia
mengajar 592 jam selama setahun). Waktu ekstra guru di FInlandia lebih banyak
digunakan untuk mendukung murid yang memerlukan perhatian khusus.
Murid yang memerlukan perhatian khusus akan di bawa
ke kelas yang terpisah dan disediakan rencana pembelajaran individual. Dengan
melakukan hal ini, pendidikan Finlandia menjamin bahwa tidak ada murid yang
tertinggal dalam pembelajaran. Jangan salah paham, tindakan ini mereka lakukan
dengan sangat elegan. Di Finlandia bahkan ada banyolan yang mengatakan bahwa
murid khusus adalah murid yang selama pendidikannya belum pernah mendapatkan
perhatian khusus. Hal ini menandakan bahwa di Finlandia pemberian perhatian
khusus di kelas yang terpisah merupakan hal yang wajar.
Dukungan bagi guru yang menemui murid dengan
kebutuhan perhatian khusus disediakan melalui tim perkembangan murid yang ada
disetiap sekolah di Finlandia. Tim perkembangan murid ini terdiri dari guru
kelas, psikolog sekolah, konselor pendidikan, dan kepala sekolah. Tim ini
bertemu setiap minggu membicarakan kasus yang ditemui murid-murid seperti
kekerasan, kesulitan belajar, dan perilaku non social. Setiap kasus dicari
solusinya secara individual. Sehingga guru tidak merasa sendirian dalam
menangani anak yang memerlukan perhatian khusus.
Kebudayaan
Masyarakat Finlandia sangat menghargai pendidikan.
Hal ini terlihat terutama dari penghargaan masyarakat terhadap profesi gugu.
Suasana kekeluargaan yang akrab sangat terasa di dalam rumah-rumah warga
Finlandia. Dalam suatu wawancara dengan wartawan BBC, beberapa orang tua
mengaku sedikit memaksa anaknya untuk berprestasi. Tetapi hal itu mereka
lakukan dalam jangkauan yang wajar.
Bagaimana dengan Indonesia? Yuk kita lakukan yang
bisa kita lakukan. Bagi orang tua mari kita ciptakan suasana yang menyenangkan
untuk anak belajar di rumah. Sebagai guru, yuk mari kita tingkatkan pengetahuan
dan terus belajar cara mengajar dari guru-guru yang lebih senior dan ahli.
Sebagai pemangku kebijakan, yuk mari ciptakan kebijakan yang memberi situasi
yang kondusif untuk perkembangan pendidikan Indonesia.
Kamis, 28 Mei 2015
BAB jongkok lebih sehat daripada duduk
Giulia Enders, seorang ahli mikrobiologi Jerman, mengklaim bahwa orang di negara-negara Barat buang air besar dengan cara yang salah. Dia mengatakan bahwa mereka seharusnya jongkok, bukan duduk.
Dalam bukunya yang berjudul Charming Bowels, Giulia menulis bahwa kebiasaan BAB masyarakat Barat dapat menjelaskan mengapa hemoroid (wasir) dan penyakit usus seperti divertikulitis lebih umum di Barat daripada di Asia.
Dia mengatakan kepada The Guardian: "1,2 miliar orang di dunia yang BAB jongkok hampir tidak memiliki masalah diverticulitis dan lebih jarang terkena wasir."
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Giulia juga menemukan bahwa jongkok adalah cara yang lebih efektif untuk mengosongkan isi perut. Sebab, jongkok hanya menempatkan sedikit tekanan pada usus.
"Melihat hasil itu, entah kenapa masyarakat Barat merasa yakin bahwa BAB duduk lebih beradab," lanjutnya.
Psikolog: Soulmate atau belahan jiwa itu benar-benar ada
Topik yang satu ini telah menjadi bahan perdebatan sejak lama. Benarkah soulmate alias belahan jiwa itu nyata? Akankah setiap orang memiliki jodoh yang tersurat sejak lahir dan suatu saat akan dipertemukan seperti dalam film-film romantis?
Ternyata belahan jiwa memang benar-benar ada, bukan sekadar omong kosong romantis. Namun tidak seperti yang kita pikirkan selama ini. Jadi sebenarnya apakah belahan jiwa itu?
Probabilitas menemukan soulmate
Sebelum melompat ke definisi soulmate alias belahan jiwa, mari kita pelajari terlebih dahulu kemungkinan kita menemukan belahan jiwa (sesuai konsep soulmate dalam film dan novel romantis) secara ilmiah.
Ahli robot NASA dan komikus Randall Munroe mencoba menguraikan probabilitas matematisnya dalam buku What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions.
Dengan membandingkan berbagai faktor, kesempatan setiap orang untuk menemukan belahan jiwa masing-masing dalam hidup adalah 1:10.000. Dan itu berarti kemungkinannya mendekati nol.
Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan kalau orang-orang yang percaya terhadap konsep ideal dan romantik belahan jiwa memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk menjalani hubungan yang tidak bahagia dibandingkan dengan pasangan yang yang menganggap hubungan sebagai 'perjalanan' di mana pasangan bertumbuh bersama seiring berjalannya waktu.
Penelitian ini dilakukan oleh Spike W.S. Lee dari University of Toronto's Rotman School of Management. Menurut Lee seperti dikutip Reader's Digest, gagasan soulmate justru menjadikan hubungan rawan.
Pasangan yang percaya kalau mereka adalah belahan jiwa untuk satu sama lain cenderung tidak puas dengan hubungan mereka saat dihadapkan dengan konflik. Padahal konflik merupakan hal yang tak terhindarkan dalam suatu hubungan dan penting untuk proses pendewasaan bagi pasangan.
Soulmate ada karena diciptakan, bukan ditemukan
Tetapi bukan berarti soulmate cuma sekadar mitos. Menurut psikolog seperti Shauna Springer, Ph.D., yang namanya belahan jiwa itu memang ada. Namun belahan jiwa tidak jatuh begitu saja dari langit. Kita sendiri yang harus 'menciptakan' mereka.
"Saya telah melihat banyak bukti bahwa kita bisa saling menjadi belahan jiwa untuk pasangan sebagai hasil dari hubungan yang mendalam dan berlangsung lama," tuturnya seperti dikutip Psychology Today.
Menurut Springer, orang akan menemukan sosok belahan jiwa dalam diri pasangan mereka setelah menjalani hubungan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pasangan yang sukses mengatasi tantangan dalam hubungan serta bisa menjaga cinta dan rasa hormat terhadap pasangan hingga bertahun-tahun akan menganggap perpisahan dan gagasan menggantikan pasangan dengan orang lain sebagai hal yang tak masuk akal untuk dilakukan.
"Dua individu yang tumbuh menjadi sosok 'sempurna' dan tak tergantikan untuk satu sama lain akan menjadi belahan jiwa."
6 Kesalahan make up ini membuat wajah tampak tua
1. Melewatkan foundation
Tidak memakai foundation ketika menggunakan make up sehari-hari bisa berdampak fatal bagi Anda. Foundation membantu menyamakan warna kulit Anda agar terlihat merata. Foundation juga bisa menutupi kerutan serta bercak pada kulit. Hindari menggunakan terlalu banyak foundation karena akan membuat keriput dan kerutan terlihat jelas.
2. Warna dasar terlalu cerah
Foundation yang berwarna terlalu cerah dibandingkan warna kulit Anda sebenarnya hanya akan memperjelas terlihatnya kerutan dan keriput, Gunakan foundation yang tidak terlalu terang dan tak terlalu berbeda dengan warna kulit Anda.
3. Kesalahan menggunakan blush on
Blush on seharusnya digunakan untuk membuat pipi Anda terlihat merah mempesona dan mengurangi kerutan di bagian pipi dan kelopak mata. Jika menggunakan blush-on, sapukan kuas di bagian teratas tulang pipi ke arah atas. Gunakan juga warna yang sedikit terang. Menggunakan blush terlalu banyak dan berwarna gelap akan membuat anda terlihat seperti badut dan tampak tua.
4. Eyeshadow metalik
Warna metalik pada eyeshadow akan memperjelas lipatan kelopak mata dan kerutan di sekitar mata. Ubah warna eyeshadow menjadi warna matte atau peach. Warna tersebut cocok digunakan untuk semua warna kulit.
5. Maskara dan eyeliner pada bulu mata bawah
Menggunakan maskara dan eyeliner pada bulu mata bagian bawah hanya akan memperjelas dua hal, keriput di ujung mata dan kantung mata. Untuk mata yang terlihat jelas gunakan maskara gelap pada bulu mata bagian atas. Ini akan membuat mata terlihat lebih putih dan cerah.
6. Lipstik berwarna muda
Lipstik yang berwarna terlalu cerah dan muda akan membuat bibir tampak pucat dan Anda pun terlihat bertambah tua. Begitu juga dengan warna lipstik yang terlalu gelap. Lebih baik gunakan warna lipstik yang wajar dan sesuai dengan warna kulit Anda. Tambahkan juga efek glossy untuk membuat bibir tampak lebih menarik.
Itulah beberapa jenis make up yang bisa membuat wajah Anda terlihat lebih tua. Sebaiknya hindari make up di atas, Ladies.
Langganan:
Postingan (Atom)










